Sabtu, 15 Oktober 2011
KISAH NYATA ATAU DONGENG..??
Kisah Nyata atau Dongeng..??? Bismillahirrahmanirrahim…… Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Saya akan
menceritakan beberapa kisah nyata dan saya jamin Anda akan merasakannnya
sebagai sekedar dongeng. Bukan karena Anda tidak mempercayai saya atau
sumber-sumber dari mana saya memperoleh kisah-kisah nyata itu; namun
terutama karena kita hidup di zaman yang jauh lebih a...bsurd
dari dongeng. Atau karena kehidupan kita sudah sedemikian jauh
meninggalkan norma-norma nyata dalam kehidupan kemanusiaan. Baiklah
saya mulai saja. Anda sudah siap mengikuti kisah-kisah saya? Inilah:
1. Suatu hari ada seorang tua miskin datang kepada Syeikh –kalau
sekarang mungkin dipanggil kiai– Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan
sesuatu keperluan meminta tolong kepada tokoh masyarakat yang disegani
itu. Seperti layaknya orang yang sudah tua renta, selama berbicara
mengutarakan hajatnya, si orang tua miskin itu bersandarkan pada tongkat
penopang ketuaannya. Dan tanpa disadari, ujung tongkatnya itu menghujam
pada kaki syeikh Sa’id hingga berdarah-darah. Seperti tidak merasakan
apa-apa, Syiekh Sa’id terus mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan
wong cilik itu. Demikianlah; ketika orang tua itu sudah mendapatkan
dari Syeikh apa yang ia perlukan dan pergi meninggalkan majlis,
orang-orang yang dari tadi memendam keheranan pun serta-merta bertanya
kepada Syeikh Sa’id: “Kenapa Syeikh diam saja, tidak menegur, ketika
orang tua tadi menghujamkan tongkatnya di kaki Syeikh?” “Kalian kan
tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya;”
jawab Syeikh Sa’id sambil tersenyum, “Kalau aku mengadu atau apalagi
menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi
menyampaikan hajatnya.” Lihatlah. Bukankah kisah di atas bagaikan
dongeng saja?! Mana ada pemimpin atau tokoh masyarakat yang begitu
tinggi menempatkan keperluan orang yang memerlukan bantuan dalam
perhatiannya? Kalau pun ada, mungkin untuk menemukannya bagaikan mencari
jarum di tumpukan jerami sekarang ini. 2. Syeikh Hasan Al-Bashari,
siapa yang tak mengenal tokoh ulama dan sufi di penghujung abad pertama
ini? Beliau tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani. Apartemen si
Nasrani di atas dan beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga,
belum pernah si Nasrani datang bertandang ke apartemen Syeikh Hasan.
Baru ketika Syeikh Hasan jatuh sakit, si Nasrani datang menjenguk.
Ketika menjenguk itulah, si Nasrani baru tahu betapa sederhana kehidupan
Syeikh Hasan yang sangat terkenal kebesarannya itu. Tapi yang lebih
menarik perhatian si Nasrani adalah adanya sebuah baskom berisi air
keruh yang terletak di dekat bale-bale tempat tidur Syeikh Hasan.
Apalagi ketika ada tetesan air jatuh tepat dari atas baskom. Spontan si
Nasrani teringat kamar mandinya di atas. Dengan ragu-ragu si Nasrani pun
bertanya: “Syeikh, ini baskom apa?’ “Ah baskom itu, sekedar
penampung tetesan air;” jawab Syeikh wajar-wajar saja, “Setiap kali
penuh baru saya buang.” “Sudah berapa lama Syeikh melakukan ini?”
tanya si Nasrani lagi dengan suara gemetar, “maksud saya menampung
tetesan air dari atas ini?” “Ya, kurang-lebih sudah dua puluh
tahun;” jawab Syeikh kalem, “jadi sudah terbiasa.” Mendengar itu,
si Nasrani langsung menyatakan syahadat. Mengakui Tuhan dan Rasul-nya
Syeikh Hasan Al-Bashari, Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Seperti
dongeng bukan? Dimana kini Anda bisa menjumpai orang yang menjunjung
tinggi ajaran menghormati tetangga seperti Hasan Al-Bashari itu? 3.
Datang seseorang melarat kepada sang pemimpin mengeluhkan kondisinya
yang sangat lapar. Sang pemimpin pun bertanya kepada isterinya
kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata
di rumah sang pemimpin yang ada hanya air. Sang pemimpin pun bertanya
kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku
ini?” “Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke
rumahnya sendiri membawa tamunya. “Saya membawa tamunya pemimpin
kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada
isterinya. “Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persediaan
untuk anak-anak kita;” bisik sang isteri. “Sibukkan mereka;” kata
suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur.
Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita
pura-pura ikut makan, ya!” Demikianlah keluarga itu menjalankan
skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri
hingga pagi. Esok harinya sebelum laporan, sang pemimpin yang
tidak lain adalah Rasulullah saw, sudah menyambut kepala rumah tangga
–seorang shahabat Anshor– itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub
menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalan.” Anda
tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang
bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya
seperti dongeng, bukan ?! Tiga kisah itu hanyalah sekedar contoh, yang
lainnya masih banyak lagi. Anda bisa dengan mudah menjumpainya di
kitab-kitab Anda, di kitab suci Al-Quran, di kitab-kitab Hadis, dan
kitab-kitab salaf pegangan kita yang lain. Hampir semuanya, bila Anda
baca, Anda akan merasa seperti membaca contoh-contoh di atas. Merasa
seperti membaca dongeng. Kalau benar demikian, bukankah ini pertanda
bahwa kondisi kehidupan kita –masya Allah!—sudah semakin jauh saja
dengan kondisi ideal seperti yang dicontohkan oleh Salafunaas
Shaalihuun, para pemimpin dan pendahulu kita yang saleh-saleh. Wallahu
a’lam. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini SALAM
UKHUWAH ISLAMIYAH.Ihai Hairani ..•*´`*•.♥♥.•*´`'•.¸*¤* ¸.•'´´*•.♥♥.•*´`*•.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar