Senin, 17 Oktober 2011
~~*~~ MENJADI ''REMAJA GAUL '' YANG SYAR'I ~~*~~
Secara teoritis, dan empiris dari segi psikologis, rentangan usia remaja
berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun
sampi 22 tahun bagi pria. Masa remaja adalah masa “stress dan strain”
(masa kegoncangan dan kebimbangan), yaitu masa puncak pencarian
identitas diri. Walaupun pen...carian
identitas itu sudah ada sejak tahap bayi sampai tahap tua, tetapi
krisis identitas itu mencapai puncaknya pada masa remaja. Ini karena
masa remaja adalah masa peralihan dari tahap anak-anak menuju dewasa.
Masa yang juga ditandai dengan berkembangnya kelenjar atau hormon,
termasuk organ seks. Hal ini membuat remaja sadar bahwa mereka bukan
lagi anak-anak walaupun kejiwaan mereka masih belum bisa sepenuhnya
meninggalkan kekanak-kanakannya. Pada masa ini remaja juga mulai dapat
mengerti tentang pengertian-pengertian agama, seperti pengetahuan
tentang Alloh, tentang surga, tentang neraka, dan nilai-nilai dien yang
lain, sehingga apabila sejak kanak-kanak orang tua telah membiasakan
anak untuk mengenal Alloh dan juga nilai-nilai dien yang lain, maka
ketika anak menjadi remaja, dia tinggal meneruskan kebiasaan berdien-nya
sejak kecil, tetapi dengan pemahaman yang baru sesuai dengan
perkembangan umurnya. *Akhlak remaja : Dalam hadis riwayat Bukhari dan
Muslim, Rasul saw. bersabda : كل مولود يولد على الفطرة وإنّما أبواه
يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه “Setiap anak itu dilahirkan menurut
fitrahnya, dan kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya seorang
Yahudi, Nashrani, atau Majusi” Sigmind Freud, seorang pakar Psikologi
mengatakan bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia
lima tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia lima tahun
sebagian besar hanya merupakan pengembangan dari struktur dasar tadi.
Kedua hal tersebut menunjukkan, bahwa sikap dan gaya kepengasuhan orang
tua di rumah pada lima tahun awal kehidupannya, sangat menentukan sifat
anak hingga dia dewasa kelak, walaupun tentu saja tidak bersifat mutlak.
Orang tua yang keras kepada anak, akan menumbuhkan anak yang keras
juga. Orang tua yang tidak mengajarkan disiplin, akan memunculkan sifat
ketidakaturan pada anak, bahkan destruktif. Sebaliknya bila orang tua
mendidik dan mendisiplinkan anak dengan kasih sayang, anak akan tumbuh
menjadi anak yang kreatif dan produktif. Tetapi sifat atau akhlak,
seperti banyak hal di dunia ini adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan
dibiasakan, bisa diubah atau dibentuk. Kebiasaan baik yang ditanamkan
orang tua kepada anak sejak kecil, bisa saja ketika anak tumbuh menjadi
remaja akan luntur dan kalah dengan perngaruh-pengaruh dari luar rumah,
misalnya pengaruh pergaulan, juga kecanggihan tehnologi informasi
seperti TV, internet juga telpon seluler. Demikian pula sebaliknya, ada
anak yang lahir dan tumbuh dengan pemahaman dien yang minim, tetapi
pergaulan di luar rumah atau pendidikan dapat mengantarkannya pada
pemahaman dien yang benar, sehingga anak tersebut menjelma menjadi
remaja yang syari’ (mematuhi syariat Islam) Inilah kemudian, yang
membuat komunikasi antar orang tua dan anak menjadi penting, saat anak
memasuki usia remaja, agar orang tua dapat mengetahui gejolak jiwa
remajanya, untuk kemudian mengarahkannya kepada jalan syariat…..Dan yang
tidak kalah penting adalah doa, karena hanya Allohlah yang berhak untuk
memberikan hidayah kepada seseorang, ataupun menyesatkannya. *Akhlak
bisa dibentuk : Menjadi remaja yang gaul adalah hal yang diimpikan
hampir oleh semua remaja. Remaja gaul identik dengan remaja cerdas,
terkenal dan percaya diri. Siapa yang tidak ingin? Itulah kenapa para
remaja banyak mengidolakan para artis yang di layar kaca terkesan
cantik/ganteng dan percaya diri. Karena remaja-remaja mengidolakan para
artis, merekapun terdorong untuk mengikuti gaya dan pola hidup
artis-artis yang mereka idolakan itu. Mulai dari busana, gaya bicara,
bahkan prinsip dan gaya hidup. Lalu bagaimana dengan remaja Islam?
Bukankah remaja Islam adalah seorang remaja yang juga ingin menjadi
sosok yang percaya diri? Alloh swt. berfirman dalam surat Ali Imron
ayat 110 كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
...الآية) “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari
yang munkar, dan beriman kepada Alloh……” Bagaimana seorang remaja
Islam merasa tidak percaya diri, padahal Alloh telah menyebutnya
sebaik-baik umat? Bila kita tengok sejarah, betapa tinggi kepercayaan
diri Rasul ketika harus mengemban amanat dakwah. Sendirian….betapa
percaya diri Ja’far Bin Abi Thalib ketika dia harus berhadapan dengan
Raja Habsyi, padahal statusnya sebagai pendatang…..Betapa percaya diri
Amr Bin Ash ketika dia memasuki benteng Babilonia atas undangan Kaisar
Romawi untuk bernegoisasi….Betapa berani dan percaya diri, Rasul dan
para sahabat, ketika harus berperang melawan orang kafir yang jumlahnya
jauh lebih banyak dari jumlah pasukan mereka…. Dan menjadi remaja yang
percaya diri memang harus gaul….Bagaimana bisa beramar makruf dan nahi
munkar, kalau tidak gaul? Bagaimana kalau dari “sono” nya memang nggak
gaul? pendiam, atau bahkan pemarah? Sifat dan akhlak bisa dibentuk.
Sesuatu yang dibiasakan akan menetap dan menjadi sifat seseorang.
Seorang remaja bisa membiasakan diri bergaul dengan semua temannya tanpa
pilih-pilih. Minimal murah senyum. Sabda Nabi : تبسمك لأخيك صدقة
“Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah.” Jadi, tidak ada alasan untuk
tidak menjadi remaja gaul. Gaul dengan teman-teman, gaul dengan guru,
gaul dengan saudara-saudara, gaul dengan tetangga….agar remaja bisa
beramar makruf nahi munkar, untuk meraih gelar dari Alloh sebagai
sebaik-baik umat. Dan menjadi gaul yang diridhai Alloh tentu saja gaul
yang tidak menyalahi Syari’at Islam, seperti bergaul dengan lawan jenis
yang bukan mahramnya bahkan dengan alasan dakwah sekalipun…. Alloh
berfirman : قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ……(الآية) “Katakanlah kepada laki-laki yang
beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara
kehormatannya…..(QS An Nur : 30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ.......(الآية) “Dan katakanlah
kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya,
dan memelihara kehormatannya…
Langganan:
Postingan (Atom)
