Jumat, 14 Oktober 2011
~*:. Dari Dapur,Wanita Menuju Syurga .:*~
Salah satu pesan orang tua kepada para anak perempuannya adalah " Cinta
suami berawal dari perut". Ketelatenan seorang wanita dalam memberikan
hidangan yang memanjakan lidah bagi suaminya, ternyata memang tidak
hanya berhasil memikat kasih sayang dan perhatiannya, namun juga
terbukti berhasil menghidangkan kebahagiaan bagi rumah tangga mereka.
Betapa tidak, suami mana yang tidak akan damai melihat...
sang istri begitu serius merawat dan melayaninya, serta perduli pada
hal terinci termasuk pada jam makannya. Bagi suami yang sangat pintar
menghargai, hal ini membuat kekurangan wanita yang menjadi istrinya
seolah termaklumi oleh perbuatannya merawat dan menjaga cita rasa lidah
sang suami.Dan tentunya bagi si istri, kebahagiaan sudah pasti dituainya
karena kesenangan dan ridho suami memanglah menjadi tujuan akhir dari
perjuangan wanita muslimah. Maka, betapa disayangkan jika masih ada
beberapa orang yang berpikir bahwa dapur bukanlah tempat wanita modern
dalam `berkarir`. Bahkan sebagian dari mereka dengan ikhlasnya berbagi
pahala dengan para pembantu bahkan menyerahkan semuanya kepada pembantu.
Beribu alasan kesibukan dan ketidakmampuan diberikannya, termasuk
alasan bahwa jaman sekarang pekerjaan rumah hanya menghambat
perkembangan kreatifitas wanita. Hanya orang- orang yang belum
mengerti kedamaian sebuah melayani, yang akan berpikiran bahwa pekerjaan
dapur hanya merendahkan wanita. Begitulah pendapat kebanyakan mereka,
biasanya didapur, masa depan wanita...tamat. Namun hal ini berbeda
dengan pikiran para wanita yang menjunjung tinggi sebuah keikhlasan.
Melayani bukan berarti memasrahkan diri menjadi pelayan. Melayani
berarti meninggkatkan derajat diri, dari yang semula hanya berpikir
tentang diri sendiri, dengan usaha yang keras dia tanggalkan ego untuk
membahagiakan orang lain. MasyaAllah, ini bukanlah hal yang mudah untuk
dilakukan, tapi juga tidak mustahil dijalankan. Wanita ajaib seperti apa
yang dapat berbuat seperti ini, kecuali akan menjadi berkah bagi
pasangannya. Betapapun pekerjaan rumah begitu beratnya, betapapun banyak
kesibukan diluar yang menyita waktu mereka, namun seorang wanita
sholehah akan tetap memfokuskan bahwa keluarga adalah nomor satu, dan
karena memang itulah tanggung jawab sesungguhnya,baginya, dari Allah
sang maha penguasa. Pikirannya akan dengan sadar menggiringnya untuk
selalu menyempatkan waktu menyiapkan apa yang dia bisa hidangkan untuk
suami tercinta. Selanjutnya, pahala baginyapun akan mengalir dengan
deras dan tiket untuk masuk ke dalam surga Allah insyaallah akan
digenggaman. Memang masih banyak cara untuk membahagiakan suami kita
selain dengan memasakkan makanan kesenangan beliaunya. Namun, adakah
cara yang lebih indah untuk memenuhi selera makan mereka selain dengan
memenuhinya dengan tangan kita sendiri. Pastilah sebuah kebanggaan bagi
kita dapat merawat suami sebagai bagian dari amanah kita yang kita
lakukan dengan tangan kita sendiri, dan menjadikan kita pribadi yang
dapat dipercaya dalam menjaga amanah. Maka jangan pernah menyepelekan
titipan Allah, dan jangan menunggu sampai titipan itu diambil Allah
barulah kita menyadari kekeliruan kita. Maka sebaiknya kita mulai
menumbuhkan rasa malu, saat mengetahui bahwa sang suami cenderung
menyukai penganan di luar dan atau buatan orang lain. Manfaatkan waktu
sebaik mungkin belajar, karena sungguh Allah menyediakan surga bagi
hambanya yang bersungguh- sungguh dalam belajar. Siapapun anda,
apapun kedudukan dan pekerjaan serta kesibukan saat ini, jangan pernah
menganggap remeh hasil karya yang terolah dengan tangan kasih sayang
anda dari sebuah ruangan kecil yang bernama dapur. kebahagiaan suami,
perhatian dan kasih sayangnya dapat anda ikat dari sana. so, mengapa
tidak buru- buru memulainya sekarang?. Selamat berburu pahala...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar